Perjalanan Eyang Tb. Khusairi

 

​Asal-usul Gunung Cikur: Kisah Perjalanan Eyang Tb. Khusairi

Sumber kisah ini berdasarkan penuturan cerita dari keturunannya

​Petunjuk dan Pencarian Panjang

​Kisah ini bermula di sekitar abad ke-19. Kala itu, Eyang Tb. Khusairi telah memiliki dua orang putri, namun beliau sangat mendambakan kehadiran seorang putra sebagai penerus garis keturunannya. Dalam ikhtiar batinnya, beliau memutuskan untuk bertafakur di makam Ki Buyut Mansyurudin, Banten.

​Di sana, beliau mendapatkan sebuah isyarat spiritual atau wangsit untuk menemukan sebuah makam di puncak gunung yang memiliki mata air di bawahnya. Perjalanan mencari lokasi tersebut tidaklah singkat; berbulan-bulan bahkan mencapai tahun beliau berkelana hingga sempat hampir menyerah. Namun, setelah kembali bersimpuh memohon petunjuk kepada Allah SWT, beliau melihat sebuah cahaya benderang yang membelah kegelapan malam.

​Setelah ditelusuri, cahaya yang bersinar bak bintang itu ternyata berasal dari sebatang tanaman Cikur. Di titik itulah beliau menemukan makam yang dimaksud, dan sejak saat itu wilayah tersebut dikenal dengan nama Gunung Cikur.

​Perjuangan Menjaga Akidah

​Sesuai dengan petunjuk awal, Eyang Tb. Khusairi kemudian menemukan mata air di kaki gunung yang kini dikenal sebagai Cai Kahuripan. Beliau mulai membuka lahan (membabad) untuk membersihkan di area sekitar makam.

​Selama proses pembersihan wilayah tersebut, beliau mendapati bahwa hutan di kaki gunung sering disalahgunakan oleh para dukun untuk praktik pemujaan. Sebagai seorang muslim yang taat, beliau dengan tegas memerangi praktik kesyirikan tersebut dan menghancurkan berbagai sesajen demi menjaga kesucian wilayah itu.

​Lambat laun, kabar mengenai ditemukannya makam keramat Raden Aria Kusumah mulai tersebar luas. Peziarah pun berdatangan,

 Eyang Tb. Khusairi awalnya tidak berniat bermukim disana, akan tetapi dikarenakan khawatir makam yang bersih dijadikan tempat memuja, beliau dengan setia menjaga area tersebut agar tetap menjadi tempat ziarah yang jauh dari penyimpangan agama.

​Terkabulnya Doa dan Sang Penerus

​Setelah kondisi wilayah mulai stabil dan ramai, beliau membawa serta istri dan putri-putrinya untuk menetap di sana. Kesabaran dan ketaatan beliau akhirnya membuahkan hasil; doa yang dipanjatkan bertahun-tahun silam pun dikabulkan. Beliau dikaruniai seorang putra laki-laki.

​Putra pertamanya diberi nama Mansur, sebagai bentuk penghormatan atas petunjuk yang beliau terima saat bertafakur di makam Ki Buyut Mansyurudin. Setelahnya, lahir pula dua putra lainnya.

H. Mansur (yang lahir di akhir abad ke-19) kemudian melanjutkan amanah sang ayah untuk menjaga dan mengelola makam hingga beliau wafat di pertengahan abad ke-20. Hingga kini, sejarah Gunung Cikur tetap melekat pada perjuangan Eyang Tb. Khusairi dalam menjaga amanah dan akidah.


Catatan: Peringatan untuk para peziarah agar selalu menjaga kebersihan makam serta menjauhi kemusrikan! 


Lokasi-lokasi terkait di Google Maps:

Komentar